Saturday, February 2, 2013

Kisah cinta nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah


 “Apakah kamu setuju jika aku merealisasikan keinginan pamanmu itu? Aku kenal seorang wanita yang—dari segi kesempurnaan dan kecantikan—sangat sesuai denganmu; seorang wanita yang baik, suci, dan berpengalaman. Sudah banyak orang yang ingin menjalin hubungan dengannya dan wanita-wanita pembesar Arab iri kepadanya. Wahai Muhammad, selayaknya kuceritakan juga kejelekan-kejelekannya. Ia pernah bersuami dua kali dan telah menjalani hidup bersamanya bertahun-tahun.
"Siapakah namanya?”
“Budakmu, Khadijah!”
“Oh, Tuhanku! Ia telah bercerita tentang dirinya. Jika kuangkat kepalaku, apa yang dapat kukatakan?” Tertunduk malu, Muhammad menimpali pertanyaan perempuan yang begitu terhormat, mulia dan kaya raya itu.
Penasaran, Khadijahpun merajut, “Mengapa engkau tidak menjawabku? Demi Allah, aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah menentangmu dalam setiap keadaan.”
(Sepenggal Dialog Khadijah, Bersama kekasihnya Muhammad)

Sebagaimana kecintaan Zulaikha kepada Yusuf, demikian tergambar dari cinta Khadijah kepada Muhammad kekasih Allah. Sebagaimana Yusuf, khadijah pernah mendengar bahwa keberadaannya membuat jagad raya ini tentram. Ketampanan, kemuliaan hati, wibawa pemimpin peradaban, tutur kata semanis madu, dan kejujuran Muhammad Putra Abdullah, sungguh telah memikat hati Khadijah Putri Khuwailid.
Semua bermula ketika suatu malam, dalam mimpinya Khadijah melihat matahari berputar-putar di atas Makkah, lalu turun ke bawah di dalam rumahnya. Ia menceritakan mimpi tidurnya itu kepada Waraqah bin Naufal, pamannya. Waraqah menyingkap takbir mimpinya dengan berkata, “Engkau akan menikah dengan orang agung yang ketenarannya akan mendomisai jagad raya ini.”
*****
Adalah sosok Muhammad, yang ketika itu baru berusia 25 tahun. Dirinya masih diliputi perasaan malu, ketika Sang Paman yang melindunginya sejak Beliau yatim piatu memberinya nasehat, agar bergabung dalam Khabilah dagang Khadijah, perempuan saudagar kaya di tanah Arab ketika itu. Kata Pamannya Abu Thalib, “Khadijah putri Khuwailid, salah seorang saudagar (kaya) Quraisy sedang mencari seorang yang dapat dipercaya untuk diserahkan tanggungjawab mengurus dagangannya dan membawanya ke negeri Syam (Syiria). Alangkah baiknya jika engkau memperkenalkan dirimu kepadanya.”
“Paman, Khadijah telah mengenal kejujuran dan amanahku. Mungkin ia sendiri yang akan mengutus seseorang kepadaku untuk mengutarakan usulan, seperti usulan Anda itu”, jawabnya singkat. Harga diri dari kepribadiannya yang tinggi, membuat Muhammad tidak serta merta menyambut arahan pamannya itu. Dikisahkan selanjutnya, bahwa ternyata Khadijah memang mengirim utusan kepada Muhammad. “Satu hal yang membuatku tertarik kepadamu adalah kejujuran dan akhlakmu yang baik. Saya siap memberi dua kali lipat (upah) dari yang biasa kuberikan kepada orang lain dan mengutus dua budak bersamamu untuk menjadi pembantumu selama dalam perjalanan.” Demikian kata Khadijah.
Ibarat gayung bersambut, Khadijah yang memang mencari cara agar lebih dekat dengan calon Rasul Allah ini, ternyata dalam nukilan kisah, sudah tahu apa yang menjadi pembicaraan Abu Thalib dan keponakannya itu. Jadilah Muhammad ke syiria bersama rombongan dagangnya, dan kembali ke Makkah dengan laba yang melimpah serta barang-barang yang sangat bagus. Kejujuran yang tiada bandingnya di makkah ketika itu, membuat Muhammad di juluki Al Amin. Berkah kejujuran, management dan komunikasi yang santun inilah yang membawa keuntungan bagi usaha Khadijah.
Entah, apakah khadijah gembira akan keuntungan dagangannya ini, namun yang pasti seperti manusia normal yang lagi jatuh cinta, Ia justru bertanya kepada Maisarah, pelayannya. “Apa yang telah kalian katakan itu? Kalian pasti memiliki kenangan indah dalam perjalanan kali ini. Coba ceritakan kepadaku”, kata Khadijah. Lalu Maisarah pun bercerita, mengenang perjalanannya dengan Muhammad.
Dua kenangan indah di ceritakan kepadanya: Pertama, Muhammad al-Amin berselisih pendapat dengan seorang pedagang dalam suatu masalah. Pedagang itu berkata kepadanya, “Bersumpahlah demi Lâta dan ‘Uzzâ. Barulah akan kuterima ucapanmu.” Muhammad al-Amin menjawab, “Makhluk paling hina dan paling kubenci adalah Lâta dan ‘Uzzâ yang kau sembah itu.” Kedua, di Bushra, Muhammad al-Amin duduk di bawah sebuah pohon untuk beristirahat. Salah seorang Rahib melihatnya dari tempat peribadatannya. Ia menghampirinya dan menanyakan namanya. Ketika mendengar nama Muhammad al-Amin, ia berkata, “Orang ini adalah nabi yang telah banyak kubaca kabar gembira berkenaan dengannya.”
Mendengar cerita itu, cinta Khadijah semakin berkobar. Khadijah pun mengabarkan nya kepada Waraqah bin Naufal, dan waraqah pun membenarkannya yang membuat Khadijah semakin menaruh hati kepada nabi yang dijanjikan itu. Bahkan dengan tegas ia menolak mentah-mentah semua pembesar Arab yang datang untuk meminangnya. Para pembesar seperti ‘Uqbah bin Mu’ith, Abu Jahal, dan Abu Sufyan adalah di antara para peminang Khadijah.
*****
Aku kutip cerita selanjutnya dari Blog Panorama Islam tanpa di rubah, bahwa Tidak aneh—seperti kesaksian para ahli sejarah dan penulis biografi—jika Khadijah berkata kepada Muhammad, “Putra pamanku, dengan pengenalanku terhadap dirimu, aku sangat berharap dapat menikah denganmu.” Muhammad Al-Amin itu pun menjawab, “Seyogianya aku mengutarakan masalah ini kepada paman-pamanku sehingga aku dapat mengambil keputusan atas dasar musyawarah dengan mereka.”
Sebagian ahli sejarah juga menulis, seorang wanita bernama Nafisah binti Aliyah, salah seorang sahabat Khadijah menyampaikan pesannya kepada Muhammad dengan berkata, “Mengapa di malam hari engkau tidak menyinari kehidupanmu dengan seorang istri? Jika aku mengajakmu kepada keindahan, kekayaan, dan kemuliaan, maukah kau menerimanya?”
Muhammad bertanya, “Siapakah maksudmu?”
“Khadijah”, jawabnya.
“Apakah ia rela dengan kondisi hidupku ini?”
“Ya. Tentukanlah harinya sehingga wakilnya dan seluruh kerabatmu duduk bersama untuk membicarakan pesta pernikahan.”
Inilah Khadijah dan dunia indah kehidupan Muhammad al-Amin, seorang pemuda kharismatik Makkah yang tampak agung di mata seluruh masyarakatnya. Tuhannya pun memuliakannya. Khadijah adalah seorang wanita pemburu yang sangat mahir sehingga ia enggan menangkap “buruan” kecuali keponakan Abu Thalib yang yatim, meskipun sahabat Abu Thalib yang berwawasan pendek dan musuhnya sering mencelanya dalam pilihannya yang suci itu.
Perdagangan itu hanya sebuah alasan untuk mewujudkan keinginan Khadijah yang jelas, sehingga ia dapat mengungkapkan kecintaannya yang membara dan keinginannya kepada kekasihnya tanpa perantara. Ia pernah berkata kepada Muhammad, “Engkau telah menguasai seluruh pikiranku. Aku mencintaimu seperti yang dikehendaki oleh Tuhanmu dan sesuai dengan keinginanmu.”
*****
Sikap pemalu dan harga diri yang tinggi dari Muhammad SAW, serta wibawa dan kesopanannya diam-diam pun menaruh hati kepada khadijah yang tidak sekedar berparas cantik, tetapi pula terhormat di tanah Arab ketika itu. Diamnya Muhammad yang disertai dengan kewibawaan dan kesopanan itu membuat air mata Khadijah menetes, dan ia melantunkan beberapa bait syair secara spontan.
“Hatiku telah tertambat kepadamu. Di dalam taman hatiku terdapat kecintaanmu. Jika engkau tidak menerima tawaranku, ruhku akan terbang dari ragaku.”
“Mengapa engkau tidak menjawabku? Kerelaanmu adalah kerelaanku dan aku selalu menaatimu.”
“Mengapa engkau berkata demikian? Engkau adalah ratu Arab dan aku seorang pemuda miskin.”
“Orang yang rela mengorbankan jiwanya untukmu, apakah ia mau mempertahankan hartanya? Wahai putra kepercayaan Makkah, wahai pondasi wujud dan seluruh harapanku, aku akan menutupi kepapaanmu. Seluruh wujud dan modal material dan sosialku ‘kan kukorbankan untukmu. Wahai matahari Makkah yang benderang, memancarlah dari jendela harapanku dan wujudkanlah harapan pamanmu yang sudah tua yang selalu mengharapkan engkau bersanding dengan seorang wanita. Jangan kau cela aku. Berikanlah hak kepadaku jika aku tergila-gila kepadamu. Zulaikha pernah melihat Yusuf dan ia menjadi tergila-gila, dan para wanita Mesir terpesona oleh ketampanannya. Engkau sangatlah agung. Jangan kau membuatku putus-asa. Demi Ka’bah dan bukit Shafâ, jangan kau usir aku dari dirimu. Bangun dan pergilah menemui paman-pamanmu, serta utuslah mereka untuk meminangku. Engkau akan mendapatiku sebagai wanita yang tegar dan setia.”
Singkat cerita, proses melamar pun dilangsungkan setelah sebelumnya melakukan musyawarah bersama paman-pamannya. Diantara pamannya ada Abu Lahab yang pesimis dengan pernikahan mulia ini, tetapi bibinya Shafiah binti Abdul Muthalib mengambil inisiatif menemui Khadijah, dan ternyata benar, cinta Khadijah kepada Muhammad Rasulullah sangat begitu mendalam.
Kisah cinta nan mulia ini, serasa membersihkan jiwa ini. Ada rasa cinta yang berdesir begitu dalam. Cinta yang belum pernah kutemui kisahnya di dunia, bahkan dalam novel sekaliber apapun itu. Cinta Khadijah yang besar dan sikap terhormat Nabi Allah Muhammad yang mulia itu, sungguh adalah kisah dua anak manusia yang dikasihi Allah. Ya Allah, aku bersalawat kepada Nabi Mu Muhammad SAW. Keberkahan selalu buatnya. Berkahilah cinta kami hamba Mu, seperti Cinta yang telah Engkau berikan kepada Muhammad dan Sitti Khadijah Al Qubrah, Perempuan mulia nan terhormat, tanpa celah dan aib, Awwalul Muslimin, dan Ibu seluruh Umat Islam

No comments: